Tuesday, July 31, 2012

Mewujudkan Kota Ramah Lansia


Bertambahnya usia dan menjadi tua adalah sebuah proses alam yang tidak dapat dihindari. Kota, sebagai tempat yang sangat diminati untuk berbagai kepentingan, kadang kala menjadi tempat pilihan untuk menghabiskan masa hidup seseorang. Ditengah pertumbuhannya yang cepat dan semakin modern, bagaimanakah mewujudkan sebuah kota yang ramah untuk kaum lansia (orang lanjut usia)?

Hasil data kependudukan Indonesia menyebutkan bahwa sekitar 7,5% penduduk berada di kategori umur diatas 60 tahun, yaitu usia dimana seseorang sudah atau menjelang pensiun dan menjadi tidak produktif lagi. Beberapa kota besar seperti DI Jogyakarta dan Surabaya mempunyai persentase jumlah orang tua di atas rata-rata nasional, yaitu berturut-turut 12,95% dan 10,39%. Kedua kota ini bahkan mempunyai proporsi kategori penduduk umur lebih dari 75 tahun di atas grup umur sebelumnya.

Berdasarkan data Departemen Kesehatan RI, ada tiga golongan lansia, yaitu lansia dini (umur 55-64 tahun), lansia (umur 65 tahun keatas) dan lansia beresiko tinggi (umur 70 tahun keatas). Kategori lansia dini merupakan kelompok umur yang sebagian masih aktif produkti hingga persiapan menjelang pensiun, sedangkan mulai kelompok umur lansia keatas akan semakin rentan terhadap masalah kesehatannya.

Melihat perkembangan tren ini, jumlah lansia akan cenderung bertambah di masa yang akan datang. Lalu apakah pentingnya umur tersebut dalam sebuah perancangan kota? Mengapa satu kelompok umur tertentu menjadi beda dengan kelompok umur lainnya?

Kondisi Fisik dan Mental yang Mulai Terbatas

Seperti balita yang sangat sensitif dengan kondisi lingkungan, para orang lanjut usia juga mulai mempunyai batasan terhadap gaya hidup dan perubahan di sekitarnya. Walaupun banyak orang yang tetap sehat pada umur diatas 60 atau 65 tahun, namun kondisi kesehatan mentalnya akan menurun sejalan dengan proses pertambahan umur. Kondisi tersebut yang akan mempengaruhi kegiatan dan cara berinteraksi sehari-hari, baik dengan orang dan makhluk hidup lain hingga respon terhadap kondisi lingkungan yang ada sekitarnya.

Seorang ahli gerontologi menyebutkan bahwa perubahan pada kulit, otot dan tulang, sistem syaraf, dan sistem tulang punggung merupakan penurunan perubahan yang umumnya terjadi pada kaum lansia (Fitzpatrick dan LaGory 2002). Keluhan kesehatan yang umumnya terjadi berkisar seringnya mengalami kelelahan walaupun suhu tubuh yang relatif lebih rendah dari orang dewasa lainnya, penyusutan tulang dan otot, rematik, serta penurunan kesehatan dan nyeri pada sendi. Selain itu, terjadi penurunan mobilitas dan mulai menurunnya orientasi terhadap satu ruang, bergerak dan bereaksi semakin lambat, berkurangnya kemampuan mendengar dan melihat, serta semakin rentan terhadap penyakit akibat berkurangnya sistem kekebalan tubuh.

Kondisi tersebut akan semakin buruk jika seorang yang berusia lanjut tidak mempunyai perencanaan masa tua sebelumnya. Selain menghadapi kondisi ekonomi, juga akan menghadapi kondisi sosial yang berbeda dengan orang dewasa pada umumnya. Yang paling umum terjadi adalah orang tua harus mengadapi rasa kesepian di tengah masyarakat yang mulai dirasakan tidak ramah dan individualis.
Dengan kondisi mental tersebut, saat harus berhadapan dengan lingkungan yang kotor dan tidak nyaman akan memudahkan orang tua untuk merasakan stress. Tidak jarang hal tersebut dapat memperburuk berbagai gejala penyakit mental organik seperti kegelisahan yang sangat, depresi, hingga schizophrenia

Menjadikan Kaum Lansia sebagai Individu dalam Sebuah Kota

Pada umumnya, banyak perbedaan antara cara pandang antara orang lanjut usia dengan orang dewasa, diantaranya adalah dari cara memandang makna dari sebuah objek atau ruang, perbedaan tingkat rasa puas atau rasa takut, serta peta mental (mental map) terhadap lingkungan di sekitarnya. Orang dewasa biasanya akan menandakan sebuah objek atau ruang dari apa saja yang mereka lihat dengan inderanya, baik dari bentuk hingga warna, serta rasa teritoral terhadap sesuatu. Sedangkan pada orang tua, lebih banyak menandakan sebuah objek atau ruang berdasarkan kultural dan psikologi. Orang tua akan mudah mengingat sesuatu berdasarkan pengalaman pribadi dan memori dari apa yang mereka ingat dan rasakan. Berdasarkan hal ini, orang tua akan sangat sulit mengingat objek atau ruang yang berubah dengan cepat, seperti cepat dan maraknya pembangunan bangunan baru di sebuah area.

Untuk area yang lambat pertumbuhannya seperti area pemukiman yang telah lama ada, lansia akan mengingat kondisi fisik dan sejarah di tempat tinggalnya lebih detail dari kaum muda. Selain itu, kaum lansia cenderung mempunyai perasaan ‘rasa jauh’ yang lebih besar sehingga membuat mereka cenderung lebih terbuka dan berinteraksi dengan komunitas di sekitarnya, terutama dengan tetangga yang terdekat. Kaum muda lebih banyak menjelajah ke tempat yang lebih jauh dari kaum lansia dan cenderung bergerak lebih cepat sehingga kurang dapat mengingat detail dari setiap area yang dilaluinya.

Ada satu hal yang menarik dari cara pandang orang lansia terhadap rasa takut dan tingkat kepuasan terhadap sesuatu. Dari sebuah hasil riset gerontologi di Inggris, banyak orang lansia yang mempunyai rasa takut yang lebih tinggi dari orang dewasa pada umumnya tetapi mereka lebih mudah untuk merasa puas dan menerima terhadap kondisi di sekitarnya. Dengan daya jelajah area yang lebih sempit dan keterbatasan sumber daya, menempatkan para lansia cenderung menjadi bagian dari masyarakat yang lebih mudah menjadi korban dari kekerasan di lingkungan rumahnya sendiri.

Dengan segala kondisi dan hambatan tersebut, kaum lansia mempunyai pilihan yang lebih sempit secara spasial dan harus lebih berhati-hati untuk dapat hidup di sebuah kota besar. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kota yang mempunyai karakteristik dan kondisi secara fisik, psikologi maupun sosial yang tidak ramah, tidak aman dan tidak menyehatkan bagi mereka.

Aplikasi dan Rekomendasi Disain

Mengaplikasikan disain secara universal dipandang tidak dapat mengakomodasikan kebutuhan spesifik grup umur dan kelompok dengan kebutuhan khusus. Tetapi jika ingin melakukan spesifikasi disain berdasarkan umur, haruslah mempunyai kaidah dan aturan khusus, sehingga tidak hanya memaksakan satu disain instan ke dalam satu area. Dan akan lebih baik jika melakukan satu perbaikan kualitas disain di satu grup umur, harus diikuti dengan perbaikan di grup umur lainnya.

Dari sebuah pusat aplikasi ilmu Gerontologi, dikatakan bahwa jika melakukan aplikasi disain untuk grup umur anak-anak akan mengurangi aplikasi disain di grup umur lansia, tetapi jika memperbaiki aplikasi disain di grup umur lansia akan mengakomodasikan kebutuhan grup umur anak-anak. Karakteristik grup umur lansia dipandang lebih rentan dan lambat pulih dari grup umur anak yang masih dalam pertumbuhan dan lebih intensif dari pengawasan orang yang lebih tua darinya. Untuk kaum lansia yang kondisi dan metabolismenya semakin menurun, cenderung lebih banyak hidup dan beraktifitas sendiri atau dalam satu grup dengan kategori umur yang sama.

Berdasarkan pembagian kategori umur lansia sebelumnya, kategori tersebut akan membedakan karakter dari kemampuan dan tipe aktifitas serta akan mempengaruhi jenis fasilitas apa saja yang diperlukan. Dimulai dari kelompok lansia dini yang masih cukup mandiri, gesit dan mudah berpindah tempat akan mempunyai tipe aktivitas yang masih bisa untuk menaktualisasikan diri, rekreasi serta interaksi sosial yang cukup intensif. Untuk mengakomodasikan kebutuhan ini, maka lokasi pemukiman diletakkan tidak jauh dari lingkungan pemukiman orang dewasa pada umumnya dan menyediakan lokasi umum untuk menjadi tempat bertemu yang nyaman. Kelompok umur lansia hingga lansia beresiko tinggi, akan mengalami proses perubahan daya dan kemampuan fisik, dimana akan lebih memerlukan bantuan orang lain serta kebutuhan perlindungan dan terapi atas kesehatannya. Untuk kelompok ini, direkomendasikan sebuah lokasi yang cukup banyak area hijau/taman yang nyaman dan rendah polusi.

Banyak kesalahpahaman yang terjadi belakangan ini mengenai bagaimana merawat kaum lansia. Hal yang umum dilakukan adalah menempatkan grup lansia di area yang cenderung tertutup dan melarang atau memberikan sedikit kebebasan bagi mereka untuk menikmati ruang luar. Padahal dengan kondisi seperti itu, justru akan membuat kaum lansia rentan terhadap stress sehingga mudah mengalami gangguan kesehatan fisik dan emosional.

Untuk mewujudkan kota yang ideal bagi kaum lansia, dapat dimulai dengan memahami karakter dari lansia itu sendiri sehingga perencanaan sebuah area khusus untuk mereka dapat sesuai dan memenuhi fasilitas yang dibutuhkan. Hal yang cukup penting diperhatikan adalah bagaimana sebuah kota dapat menyediakan lebih banyak ruang terbuka seperti taman lingkungan yang asri, bersih, aman, dan nyaman.

Untuk area pemukiman, penting diperhatikan bahwa letak lokasinya harus berada di area yang rendah tingkat polusinya, baik polusi air, suara, maupun udara. Selain itu, lokasi tersebut haruslah mempunyai kemudahan akses serta arah pandang yang lebih lebar untuk melihat lebih baik. Kemudahan akses ini termasuk menyediakan area pedestrian yang aman dan nyaman dengan penerangan di malam hari yang baik, penyediaan transportasi umum seperti bis dan mikrolet, hingga kereta api. Arah pandang yang luas dan mempunyai petunjuk arah yang jelas bertujuan untuk mengetahui orientasi arah dan hambatan hingga untuk saling mengawasi untuk cepat memberikan pertolongan dalam keadaan darurat.

Ada berbagai macam fasilitas penting untuk mendukung aktifitas kaum lansia, yaitu pusat perawatan dan terapi orang jompo, klinik atau rumah sakit, pasar atau area perbelanjaan, pusat berolah raga, tempat beribadah umum, hingga sarana lainnya seperti perpustakaan hingga taman lingkungan. Semua fasilitas yang ada akan di disain sesuai dengan karakteristik dan standar untuk golongan umur lansia, seperti merencanakan area singgah (drop-in) untuk memberikan area duduk dan beristirahat dalam jarak tertentu, membuat area hijau yang mampu menyerap gas CO2, hingga terapi dengan berkebun.

Regulasi, Aplikasi Disain hingga Kontribusi Sosial

Terlepas dari kebijakan pemerintah dan kepentingan politik lainnya, sudah saatnya membuat langkah lebih maju untuk mewujudkan kota ramah lansia. Salah satunya adalah dengan mengaplikasikan perencanaan kota yang terarah dan berkelanjutan yang dikombinasikan dengan peningkatan kualitas fasilitas dan lingkungan perkotaan yang lebih baik.

Referensi penggunaan konsep green city dan green building dapat menjadi sebuah langkah awal yang harus berkelanjutan dan tidak hanya menjadi eforia sesaat. Pemangku kebijakan dapat berpartisipasi aktif untuk mengeluarkan regulasi yang pro kepada kelompok umur lansia dan melakukan pengawasan secara proaktif bersama masyarakat umum. Peningkatan standar kesehatan lingkungan hingga kebijakan kota yang selaras dan terpadu di berbagai bidang yang akan meningkatkan kesadaran setiap individu untuk menjalaninya, menjadi sebuah langkah awal dari terwujudnya kota yang ramah bagi semua lapisan masyarakat termasuk anak dan kaum lanjut usia pada khususnya.

***


Bahan bacaan:

Fitzpatrick, Kevin and Mark LaCory.2000. Unhealthy Places, The Ecology of Risk in the Urban Landscape. Routledge. New York.

Marcus, Clare Cooper and Carolyn Francis. 1998. People Places, Design Guidelines for Urban Open Space. Second Edition. Van Nostrand Reinhold. United State of America.

Badan Pusat Statistik. 2011. Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin 2010. www.bps.go.id/aboutus.php?sp=1.


Catatan: Artikel ini merupakan versi asli dari artikel yang telah dipublikasikan oleh Majalah Garden Edisi 61/2012.